Keadilan Ordeal

uji coba fisik untuk membuktikan kejujuran seseorang

Keadilan Ordeal
I

Pernahkah teman-teman dituduh melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak kita lakukan? Rasanya pasti sangat frustrasi. Sewaktu kecil, mungkin kita akan bilang, "Sumpah demi Tuhan, bukan saya yang ambil!" atau bahkan menantang dengan kalimat ekstrem seperti, "Sumpah disambar petir kalau saya bohong."

Kita mengucapkan itu karena kita tahu betul kita tidak bersalah. Kita berharap ada kekuatan yang lebih besar untuk membuktikan kejujuran kita. Nah, mari kita mundur sedikit ke masa lalu. Ribuan tahun yang lalu, hingga sekitar abad ke-13, masyarakat punya cara yang jauh lebih brutal untuk membuktikan hal ini.

Metode ini dikenal dalam sejarah sebagai trial by ordeal atau pengadilan melalui ujian fisik. Bayangkan kita dituduh mencuri. Hakim tidak akan mencari sidik jari atau saksi mata. Sebagai gantinya, mereka akan memanaskan sebatang besi di atas api sampai menyala kemerahan. Lalu, kita disuruh memegang besi panas itu dan berjalan sejauh beberapa langkah. Tiga hari kemudian, tangan kita akan diperiksa. Kalau lukanya infeksi, kita dinyatakan bersalah. Kalau sembuh, kita jujur.

Terdengar seperti kegilaan murni, bukan? Namun, mari kita pikirkan hal ini bersama-sama.

II

Sekilas, membaca sejarah tentang trial by ordeal membuat kita merasa betapa tidak rasionalnya nenek moyang kita. Selain memegang besi panas, ada juga ujian memasukkan tangan ke dalam air mendidih untuk mengambil batu di dasarnya.

Ada pula ujian air dingin. Seseorang yang dituduh mempraktikkan sihir gelap akan diikat dan dilempar ke danau atau sungai yang sudah diberkati pendeta. Logika mereka saat itu: air suci akan menolak tubuh orang berdosa. Jadi, kalau orang itu mengapung, dia bersalah. Kalau dia tenggelam (dan berisiko mati lemas), dia justru dianggap tidak bersalah.

Sebagai manusia modern yang berpikir logis, kita pasti mengernyitkan dahi. Ini bukan keadilan, ini penyiksaan. Daging manusia pasti akan melepuh jika terkena besi panas. Paru-paru manusia pasti akan kemasukan air jika ditenggelamkan. Hukum alam tidak peduli apakah kita jujur atau berbohong.

Namun, di sinilah letak teka-tekinya. Sistem peradilan ini tidak hanya dipakai selama satu atau dua tahun. Sistem ini bertahan selama berabad-abad di berbagai belahan dunia.

III

Sekarang, mari kita gunakan kemampuan berpikir kritis kita. Jika sistem ini hanya berakhir dengan tangan semua orang melepuh dan semua orang dinyatakan bersalah, masyarakat pasti sudah memberontak sejak lama. Sistem hukum apa pun akan hancur jika secara konsisten menghukum orang yang tidak bersalah.

Fakta sejarahnya justru membuat dahi kita makin berkerut. Catatan dari abad pertengahan di Eropa, salah satunya dari sebuah gereja di Hungaria, mencatat ratusan kasus trial by ordeal. Hasilnya? Ternyata banyak sekali orang yang berhasil lolos! Tangan mereka tidak infeksi, dan mereka dinyatakan tidak bersalah.

Bagaimana mungkin? Apakah hukum termodinamika tiba-tiba berhenti bekerja? Apakah Tuhan benar-benar turun tangan mendinginkan besi tersebut khusus untuk orang yang jujur? Ataukah ada sebuah mekanisme rahasia yang tersembunyi di balik ritual mengerikan ini?

Di sinilah sains, psikologi, dan kecerdasan manusia di masa lalu bertemu dalam sebuah intrik yang luar biasa.

IV

Mari kita bedah rahasianya dengan lensa sains dan psikologi. Kunci utama dari trial by ordeal bukanlah pada besinya, melainkan pada kepercayaan.

Pada masa itu, masyarakat sangat religius. Mereka percaya 100 persen bahwa Tuhan akan menyelamatkan orang yang jujur dan menghukum yang bersalah. Kepercayaan inilah yang dimanipulasi oleh para pendeta atau hakim yang memimpin ujian tersebut.

Bayangkan kita adalah orang yang bersalah. Kita tahu kita mencuri. Saat kita disuruh memegang besi panas, otak kita akan panik. Kita yakin Tuhan tahu kita berbohong dan besi itu pasti akan menghanguskan tangan kita. Akibatnya, ketakutan ini memicu sistem saraf simpatik kita (sympathetic nervous system). Kita mengalami respons fight or flight. Mayoritas orang bersalah akan menyerah, mengaku, atau kabur sebelum ujian dimulai demi menghindari rasa sakit yang sia-sia.

Sebaliknya, bagaimana jika kita benar-benar tidak bersalah? Kita akan melangkah maju dengan tenang. Kita yakin Tuhan ada di pihak kita. Pendeta yang memimpin ritual ini adalah pengamat psikologi yang ulung. Ketika melihat seorang terdakwa maju tanpa keraguan sedikit pun, pendeta itu sudah mendapat jawaban yang ia cari: orang ini jujur.

Lalu bagaimana dengan besi panasnya? Di sinilah triknya terjadi. Ritual pemanasan besi dilakukan secara privat oleh sang pendeta. Jika pendeta yakin terdakwa tidak bersalah (karena terdakwa tampak sangat tenang), ia punya banyak waktu untuk membiarkan besi itu sedikit mendingin sebelum diserahkan. Luka bakar yang dihasilkan pun tidak akan parah dan mudah sembuh dalam tiga hari. Ujian ini sebenarnya adalah tes psikologi berkedok campur tangan ilahi.

Ada satu lagi bukti biologis yang menarik. Di Inggris, ada ujian menelan roti kering yang sudah dikutuk (corsned). Jika terdakwa tersedak, ia bersalah. Secara sains, saat seseorang stres dan ketakutan (karena bersalah), kelenjar ludahnya akan berhenti berproduksi. Mulutnya menjadi sangat kering. Mencoba menelan roti kering dalam kondisi ini pasti akan membuat seseorang tersedak. Sementara orang jujur yang tenang akan memproduksi air liur secara normal dan menelannya dengan mudah. Sains biologi tubuh kita sendirilah yang sebenarnya menjadi hakim.

V

Ternyata, nenek moyang kita tidak sebodoh yang kita kira. Trial by ordeal adalah sebuah sistem deteksi kebohongan yang sangat canggih pada masanya. Ia bekerja dengan memanfaatkan ketakutan terdakwa terhadap hukuman dari Tuhan. Ini adalah manipulasi psikologis tingkat tinggi.

Lalu, bagaimana dengan kita hari ini? Kita mungkin menertawakan orang zaman dulu yang menggunakan besi panas. Namun, bukankah kita masih sering mencari cara "ajaib" untuk membuktikan kejujuran? Kita menggunakan mesin polygraph atau alat pendeteksi kebohongan. Padahal, sains modern membuktikan bahwa polygraph tidak benar-benar mendeteksi kebohongan. Alat itu hanya mendeteksi tingkat stres dan kecemasan—persis seperti kelenjar ludah pada ujian menelan roti kering berabad-abad yang lalu.

Manusia pada dasarnya sangat kompleks. Kita selalu mencari kebenaran dan keadilan, seringkali dengan cara yang putus asa. Mengetahui sejarah ini semoga bisa membuat kita lebih berempati. Terkadang, hal-hal yang terlihat tidak masuk akal di masa lalu punya alasan logis yang tersembunyi.

Ini juga mengingatkan kita untuk tidak mudah menghakimi, dan selalu menggunakan lensa ilmu pengetahuan dan pemikiran yang kritis dalam melihat dunia. Karena seringkali, kebenaran tidak terletak pada besi yang panas, melainkan pada bagaimana pikiran kita meresponsnya.